Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Tangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Tangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Kerajinan Batu Tabas

Sektor Usaha yang bergerak dalam usaha Batu Tabas di karangasem, nmerupakan sektor yang melibatkan puluhan kelompok Tenaga Kerja Pertukangan batu yang mana tenaga kerja yang terlibat mendekati diatas seribu orang tenaga kerja. Sepanjang jalan dan masuk pelosok desa tidak jarang dijumpai Usaha yang mengerjakan Pekerjaan Sanggah/ Pelinggih dari batu tabas.
Sering Orang salah kaprah , bahwa batu tabas Karangasem harganya lebih mahal . Kenapa lebih mahal ? Padahal batu tabas asalnya dari karangasem, nah disinilah pesan Sponsornya, tanpa ada media yang bisa meluruskan kondisi yang sesungguhnya
Sebagian besar tukang batu tabas yang bekerja di jalur Bay Pass Ida bagus Mantra merupakan Tukang Karangasem. Kenapa mereka sampai bekerja di denpasar dan Gianyar? Padahal sumber bahan baku berasal dari daerah mereka sendiri. Jangan salah , ada Batu tabas Karangasem yang lebih mahal disebut batu Uma Anyar, batunya tidak merupakan batu lahar yang terbakar, kondisi batunya lebih hidup dan tidak rapuh.
Kalau yang lebih jeli akan melihat perbedaan pelinggih yang dibuat di Karangasem dengan yang dibuat di Luar Karanagsem. Batunya Tabasnya Lebih tebal , jelas faktor kekuatan akan menjadi lebih kuat. Rakitan Simbar padas hitam dan Hiasan Karang Gajah tidak merupakan batu Tempelan, bahannya merupakan batu lebih tebal .

Kerajinan Ate Karangasem

product ata adalah Product dengan Tampilan Exlusif, Tampilan Product yang alamiah, sifat bahan yang awet, dikerjakan dengan handmade, tidak menggunakan mesin, tidak merusak alam dan keberadaan kerajinan ini telah menghidupi ekonomi kebutuhan keluarga mereka.
SEPINTAS kerajinan ate mirip dengan rotan. Pohon/bahan ate bisa ditemukan di hutan-hutan atau di perbukitan termasuk di Bali. Namun, ate yang dihasilkan di Bali kecil-kecil. Karenanya, para pengrajin ate mendatangkan bahan dari pulau Jawa, Flores, dan Sumatra. Saat ini masyarakat Desa Seraya, Karangasem mengerjakan kerajinan ate yang diwarisi secara turun temurun ini, mengisi waktu luang atau selingan. Sebagian besar profesi mereka sebagai petani dan peternak.
Menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, tidak hany ratusan, hitungannya sudah ribuan tenaga kerja yang terserap disektor ini terebar dibeberapa Desa, seperti di Bungaya, Bebandem, Seraya, Bukit dan tersebar juga dibeberapa Desa.
  • Tempat yang Flexible, Kerajinan ini biasanya dikerjakan di rumah, digubuk, dib alai Pertemuan, di warung dimanapun mereka berada dan kapanpun bisa dikerjakan.
  • Pekerjaan kerajinan Ata ini biasanya dikerjakan oleh Masyarakat Kaum Perempuan, yang rata-rata dikerjakan oleh Keluarga Miskin
  • Pengambilan waktu yang flexible, bisa dikerjakan disela sela waktu mengurus rumah tangga, sambil memasak, menunggu rumah, tidak harus meninggalkan rumahnya.
  • Dalam proses pengerjaannya tidak membutuhkan Peralatan mesin, mereka mengerjakan dengan ketrampilan tangan / Handmade.
  • Jenis kegiatan ini cocok dikembangkan khususnya pada Masyarakat Pedesaan, mengangkat ekonomi local, dan bisa mengajegkkan Budaya setempat, khususnya Budaya Bali.
Sepintas, barang-barang dari Kerajinan Ata Karangasem ini mirip dengan kerajinan anyaman Ketak / Ata Lombok. Bedanya, anyaman ata Karangasem ini tanpa rangka, sedangkan Anyaman Lombok itu kebanyakan bukan dari kulit ata dan di dalamnya ada rangka dari rotan.. Jenis Product Kerajinan Ata , mulai tas , pajangan pot bunga, taplak meja, keranjang tempat pakaian (laundry basket), cinderamata untuk pernikahan, keranjang sampah, keranjang tempat pakaian kotor, alas piring dan gelas. Kerajinan Ata ini Berkembang terus menjadi bentuk lain seperti tas, kotak, bokor, gentong, tempat tissue dan sebagainya yang digemari wisatawan.


Kerajinan Paras Taro

Disebut paras Taro, ada yang menyebut Tanah Taro, Umumnya dibuat Sanggah/ Pelinggih , candi bentar . Namun sekarang sudah berkembang  dalam bentuk-bentuk pada elemen bangunan seperti untuk Pilar, Dinding Styl Bali, angkul-angkul dengan sentuhan  disain Simpel  Minimalis dan terkesan Alami.
Lain halnya Si Ketut , dengan Saudaranya yang berasal dari Daerah Seraya Karangasem, menggeluti pembuatan Sanggah/ Pelinggih tidak hanya untuk Bangunan Pelinggih saja , tetapi sudah dikembangkan menjadi elemen – Eemen Bangunan yang menunjang Arsitektur Bali, seperti pilar, dinding yang menyesuaikan dengan permintaan Konsumen, dan yang lebih penting menyesuaikan dengan kondisi tampat/ Lingkungan dimana  Elemen Bangunan tersebut akan dipasang.

Bahan paras tanah taro, didapatkan dengan menggali didalam tanah/ tebing, kalau dipegang khusus kerikilnya seperti kerikil batu lempung, ringan dan kalau sudah dicetak gampang dibentuk dengan peralatan pancak, serut atau pahat. Kemungkinan material paras tanah taro bersumber dari letusan gunung batur karena letak materialnya dekat dengan gunung batur, dan sifat phisik dari tanah pasir taro, seperti merupakan lumpahan letusan gunung berapi.

Kain Gringsing Desa Tenganan

Kain gringsing adalah satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik teknik dobel ikat dan memerlukan waktu 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa Tenganan Karangasem-Bali. Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki kain gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus. Kata gringsing berasal dari gring yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak', sehingga bila digabungkan menjadi 'tidak sakit'. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah seperti penolak bala. Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain gringsing.

Kain ini sangatlah unik karena dengan sekilas memandang kita dapat langsung mengetahui kalau kain tersebut memang buatan tangan. Kain ini termasuk mahal, dan hanya diproduksi di desa tenganan saja. Waktu pengerjaannya pun memerlukan waktu yang cukup lama, karena karena warna – warna yang terdapat dikain gringsing ini berasal dari tumbuh-tumbuhan dan memerlukan perlakuan khusus. Walaupun banyak wisatawan yang semakin lama semakin banyak untuk datang didesa ini, namun sayang belanja suvenir mereka masih kurang.