Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Perang Pandan di Desa Tenganan

Sudah menjadi tradisi bagi Masyarakat Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kabupaten Karangasem, Bali menggelar kegiatan tradisi “perang pandan. Perang Pandan merupakan tradisi tahunan yang digelar dalam rangkaian upacara Ngusaba Desa, di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, sekitar 78 kilometer timur laut, Kota Denpasar. Acara ini akan digelar pada tanggal 30 Juli 2010 dan akan melibatkan puluhan pasang petarung dari dua kelompok yang saling berhadapan yang terdiri dari anak – anak, pemuda dan orangtua.

Perang Pandan ini akan berlangsung mulai pukul 13.00 siang, selama tiga jam, sebelum acara ritual ngusaba desa dimulai. Yang membuat unik dari perang ini adalah senjata yang dipakai, tidak berupa senjata tajam melainkan dengan daun pandan berduri yang di gunakan untuk melawan pada saat pertandingan. Perang Pandan diiringi oleh musik tradisional Bali sebagai penyemangat, karena semakin keras suara gamelan maka semakin semangat untuk menyerang lawan. Disamping itu juga perang ini diiringi lagu atau gending yang disebut dengan mekara –kara.

Dalam perang pandan ini setiap pertandingan dipimpin oleh seorang wasit yang bertugas untuk memimpin pertandingan tersebut. Setiap orang akan membawa satu ikat daun pandan berduri yang rata – rata terdiri dari 20 batang daun. Disamping itu setiap orang pun akan membawa tameng yang terbuat dari pohon ate yang dapat berfungsi untuk melindungi dari dari serangan musuh.

Bisa dibayangkan jika kulit tersebut kena pandan yang berduri, pasti akan keluar darah, tetapi meskipun demikian, mereka tetap saja berperang sebelum ada aba – aba berhenti. Mereka akan saling dorong dan saling berusaha untuk dapat menyentuh lawan dengan pandan berduri tersebut.

Setelah perang usai, yang tertinggal hanyalah korban yang bersimbah darah, tetapi sama sekali peristiwa ini tidak meninggalkan kesan permusuhan, malah masing – masing lawan saling membantu untuk memberi obat yang berupa daun sirih dan kunyit yang dibalurkan pada tubuh yang terluka.

    Share
    Printable version

Kontak kami
Untuk informasi lebih lanjut silahkan kontak kami
Name *     :    
Email *     :    
Comment     :    
Verification Code
    :     verifikasi kode
« Tanah Lot Art Festival 2010
Sanur Village Festival 2010 »
 Instant Konfirmasi - diskon rate
-----------------------------------------------------------------
 Hotel select     :    
 Area select     :    
 Check in     :    
            [Calendar] 
       
                       
                       
                       
                       
                       
                       
 Check out     :    
            [Calendar] 
       
                       
                       
                       
                       
                       
                       
 Total Hotel     :    

 Credit card     rapid ssl
phone
Asita logo and visit indonesia
Subscribe

Ketik email anda untuk berlangganan

Megibung

Megibung adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat atau sebagian orang untuk duduk bersama  saling berbagi satu sama lain, terutama dalam hal makanan. Tidak hanya perut kenyang yang didapat dari kegiatan ini namun sembari makan kita dapat bertukar pikiran bahkan bersendagurau satu sama lain.
Megibung bersasal dari kata dasar gibung yang mendapat awalan me-. Gibung berarti kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang yaitu saling berbagi antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedangkan awalan me- berarti melakukan suatu kegiatan.
Tradisi Megibung merupakan kegiatan yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata. Tanpa disadari Megibung menjadi suatu maskot atau ciri khas Kabupaten Karangasem yang ibu kotanya Amlapura ini. Tradisi Megibung sudah ada sejak jaman dahulu kala yang keberadaannya hingga saat ini masih kerap kali kita dapat jumpai. Bahkan sudah menjadi sebuah tradisi bagi Masyarakat Karangasem itu sendiri didalam melakukan suatu kegiatan baik dalam upacara Keagamaan, Adat maupun kegiatan sehari-hari masyarakat apabila sedang bercengkrama maupun berkumpul dengan sanak saudara.
Saat ini kegiatan megibung kerap kali dapat dijumpai pada saat prosesi berlangsungnya Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat di Karangasem. Seperti misalnya dalam Upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan.
Proses penyembelihan babi pun dilakukan sebagai salah satu menu di dalam mempersiapkan hidangan yang disebut Gibungan ini. Daging babi diolah sedemikian rupa dan di kasi bumbu tertentu sehingga daging yang mentah menjadi menu pelengkap yang menggugah selera seperti sate, lawar, soup (komoh), Gegubah/lempyong, pepesan serta yang lainnya. Menu yang dihidangkan dalam Megibung tidaklah harus daging babi, namun dading ayam, kambing serta daging sapipun tidaklah masalah.
Megibung berlangsung apabila tamu undangan sudah lama bersanda gurau dengan kerabat serta sanak saudara serta setelah selesai membantu tugas-tugas yang dapat dilakukan guna kelangsungan acara tersebut, sebelum para undangan pulang terlebih dahulu di ajaklah untuk makan (megibung) sebagai tanda terimakasi atas kedatangan dan bantun dalam acara tersebut. Dalam Megibung biasanya terdiri dari lima hingga tujuh orang, yang dilakukan dengan duduk bersama membentuk lingkaran. Adapun ciri khas dari megibung ini adalah :

-          Duduk bersila membentuk lingkaran yang terdiri dari 5-7 orang.
-          Nasi yang disuguhkan ditaruh dalam satu wadah (nare besar).
-    Lauk atau pelengkap nasi berupa sate, lawar, soup, Gegubah/lempyong, pepesan yang ditempatkan dalam satu wadah (nare kecil).
-          Kegiatan makan dilakukan secara bersamaan dan makan menggunakan tangan.
-          Pada saat makan tidak boleh ada yang terjatuh di wadah/tempat nasi namun harus di luar nare tempat nasi tersebut.
-          Apabila ada salah seorang peserta megibung ada yang terlebih dahulu kenyang, orang tersebut tidak boleh terlebih dahulu bangun atau meninggalkan tempat megibung namun meski menunggu yang lain supaya selesai makan dan bangun secara bersama-sama.

Kegiatan Megibung maknanya sangatlah besar bagi kita semua terutama dalam hal kebersamaan serta saling berbagi satu sama lain tanpa melihat kasta dan materi yang dimiliki seseorang. Namun seiring perkembangan jaman, Megibung bagi kalangan orang-orang mampu kini sudah bukanlah merupakan keharusan lagi, karena dengan adanya catering mereka dengan mudah dapat memesan makanan apapun yang mereka kehendaki (perasmanan). Memang hal seperti ini sangatlah praktis, namun hal seperti ini sangat disayangkan karena mampu mengakibatkan hilangnya tradisi yang sudah diwarisi dari nenek moyang yang semestinya harus terus dijaga bahkan diwariskan kepada generasi penerus kita agar para generasi penerus kita semakin memahami arti penting dari kebersamaan dan memiliki rasa untuk saling berbagi satu sama lain. Bahkan pada tahun 2006 di Karangasem pernah diadakan acara Megibung Masal yang diselenggarakan oleh pemerintah guna memecahkan Rekor Muri yang di selenggarakan di Taman Sukasada Ujung Karangasem.