Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label Pura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Pura Silayukti

 Pura Silayukti terletak di ujung selatan Gunung Luhur Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Di sebalah selatan membentang laut yang memisahkan antara pulau Bali dengan Nusa Penida. Di sebelah utara berdiri Gunung Luhur. Di sebelah barat teluk Padangbai (Pelabuhan Padangbai). Di sebelah timur Teluk Labuhan Amuk. Pura itu didirikan di atas tanah datar dan menjorok ke laut, menghadap ke selata

Pura Silayukti adalah Pura Pasraman Mpu Kuturan. Mpu Kuturan-lah salah satu tokoh spiritual Hindu di masa lampau yang sangat tepat diberikan gelar Pandita ahli yang juga disebut Brahmanasista dalam pustaka Manawa Dharmasastra. Mpu Kuturan yang nama prinadi beliau Mpu Rajakerta. Beliaulah yang pernah menjabat Senapati Kuturan di Bali pada abad ke-11 Masehi. 

Di Pasraman Pura Silayukti ada empat kompleks tempat pemujaan. Di bagian utara adalah pura sebagai tempat pemujaan Mpu Kuturan. Beliau dipuja di Meru Tumpang Tiga menghadap ke selatan. Meru Tumpang Tiga inilah sebagai pelinggih utama di kompleks Pura Pasraman Mpu Kuturan. Di barat agak ke utara dari Pura Pasraman Mpu Kuturan ini terdapat Pura Taman Beji sebagai tempat memohon tirtha sebagai sarana utama pada saat upacara di Pura Pasraman Silayukti.

Di kompleks bagian selatan dari Pura Pasraman Mpu Kuturan terdapat kompleks pura sebagai tempat pemujaan Mpu Bharadah. Di pura ini Mpu Bharadah dipuja di Meru Tumpang Tiga juga, cuma menghadapi ke barat. Sedangkan tempat meditasi Mpu Kuturan sebagai kompleks keempat terletak di bagian timur bukit Silayukti agak turun ke bawah menghadap ke timur di mana akan kelihatan laut yang membiru.
Kalau saat bulan purnama dengan berpadu pada pemandangan laut kita melakukan meditasi di tempat ini sungguh sangat menggetarkan spiritual kita. Karena keadaan alam ciptaan Tuhan itu demikian mempesona bagi mereka yang memiliki minat spiritual.
 

Senin, 02 Januari 2012

Pura Bukit Gumang

KEBERADAAN Pura Gumang di Bukit Juru, Desa Bugbug, Karangasem, ada hubungannya dengan adanya mata air yang mengaliri sawah ladang di sekitar Desa Bugbug. Keterangan tertulis yang bernilai sejarah tentang Pura Gumang di Bukit Juru ini memang sampai saat ini masih belum diketemukan. Keterangan tentang pura tersebut hanya didapat dari keterangan orang tua-tua seperti pemangku yang menjadi jan banggul di Pura Gumang dan juga dari tokoh-tokoh masyarakat yang menaruh perhatian tentang agama dan adat Hindu.

Cerita itu didapatkan Secara turun-temurun. Menurut cerita rakyat yang dicatat oleh Tim Penelitian Sejarah Pura IHD (kini Unhi), dulu ada seorang dari Jawa bernama I Dewa Gede datang ke Bali. Saat I Dewa Gede datang ke Bali, masyarakat Bali tidak begitu hirau. Setelah beberapa lama I Dewa Gede berputar-putar di Bali, akhirnya ia menemukan tempat yang sangat menenangkan hatinya. Tempat itu adalah Bukit Juru yang juga bernama Bukit Gumang.

Di tempat itu, I Dewa Gede melakukan olah tapa sambil bertani bersama-sama masyarakat petani setempat. Di daerah Bukit Juru, pertanian mengandalkan air tadah hujan. Upaya menghijaukan Bukit Juru tidak pernah berhenti dilakukan oleh I Dewa Gede.

Di samping itu, dalam melakukan oleh tapa, ia senantiasa memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar muncul mata air dan sungai untuk kesuburan pertanian masyarakat di sekitarnya. Dalam upaya melakukan penghijauan dengan air tadah hujan dan melakukan tapa barata itu, akhirnya suatu saat muncuJiah mata air di Pura Gumang di Bukit Juru sekarang ini.

Atas keberhasilan usaha I Dewa Gede bersama masyarakat petani secara sekala dan niskala ini, I Dewa Gede lantas dicintai oleh rakyat. Hal itu berhasil tentunya karena waranugraha Hyang Widhi Wasa. Oleh karena adanya waranugraha itulah akhiniya Pura Gumang didirikan di mata air tersebut. Kata Gumang konon berasal dari paiguman yang artinya musyawarah. Atas keberhasilan I Dewa Gede menghijaukan Bukit Juru itu dengan upaya sekala dan niskala itu pula, akhirnya rakyat mengadakan rapat (igum) untuk mengadakan upacara di Pura Gumang dan memberikan hadiah sapi kepada I Dewa Gede. Saat itu I Dewa Gede diberikan tambahan nama menjadi I Dewa Gede Gumang. Konon sapi-sapi persembahan rakyat itu pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang habis ditembaki oleh orang-orang Belanda dan Jepang yang suka berburu di Bukit Juru itu. Ada juga versi lain tentang keberadaan Pura Gumang ini. Menurut Jero Mangku Nengah Silur, zaman dulu para dewa turun dan Gunung Mahameru di India ke Jawa dan Bali. Di Bali, para dewa ke Pulaki, Silayukti, CandiDasa.

Di Candi Dasa, para dewa menemukan air. Air itu atas kehendak para dewa terus menjadi telaga dengan tamannya. Para dewa ingin bermeditasi dengan dapat melihat Gunung Agung dengan Pura Besakih-nya secara lurus. Ternyata, dan Candi Dasa para dewa tidak dapat melihat Gunung Agung dengan jelas dan lurus.

Para dewa lalu pindah ke Gunung Gundul, ke Bukit Pejenengan. Ternyata sama juga, Gunung Agung tidak bisa dilihat secara baik. Dan dua tempat itu, mereka akhirnya berpindah ke Bukit Juru yang berbadan tiga. Dan Bukit Juru inilah para dewa barn melihat Gunung Agung dengan lurus. Di Bukit Juru inilah para dewa melakukan musyawarah (mapaiguman) melakukan yoga dan tapa serta mendirikan pura untuk memuja Hyang Widhi di Pura Besakih.

Lewat musyawarah itulah Bukit Juru disebut Bukit Gumang. Yang bermusyawarah itu adalah para déwa untuk melimpahkan karunianya pada umat yang berusaha memajukan hidupnya, seperti mengembangkan tradisi kehidupan yang agranis. Di Tampaksining juga ada Pura Gumang yang dilatarbelakangi oleh pertemuan Dewa Indra dengan para dewa untuk menata kehidupan di Bali setelah dapat mengalahkan Mayadenawa. Demikian mitologi tentang Mayadenawa. Di tempat - Dewa Indra bermusyawarah atau mapaiguman itulah dibangun Pura Catur Paigu- man yang selanjutnya disebut Pura Gumang di Tampaksiring.

Di Pura Gumang di Bukit Juru terdapat beberapa petinggih utama dan pelengkap. Ada peling.gih Gedong sebagai stana Ida Bhatara Gede Gumang yang juga disebut Ida Bhatara Gede Manik Mas Kecatur. Di kiri kanan Gedong, agak mundur sedikit, terdapat tiga pelinggih Taksu yang mengapit Gedong - dua dikiri dan satu di kanan. Tiga Taksu tersebut sebagai pelinggih Ida Bhatara Gede Gumang.

Ada pula pelinggih Meru tumpang tiga sebagai stana Ida Bhatari Uma, saktinya Dewa Siwa. Mengapa Ida Bhatara Gede Gumang disebut juga Ida Bhatara Gede Manik Mas Kecatur, hal mi mungkin sebagai bukti bahwa I Dewa Gede itu pemuja Bhatara Siwa dengan saktinya Sang Catur Dewi. Dewa Siwa memiliki empat sakti yaitu Dewi Uma, Dewi Perwati, Dewi Gangga, dan Dewi Gauri. Empat sakti Siwa inilah yang disebut Sang Catur Dewi.
Dalam kaitannya memuja Tuhan untuk memohon turunnya mata air dan sungai yang mengalir di daerah Bughug, Jasi, Bebandem, Datah dan Ngis, ada kaitannya dengan cerita turunnya sungai Gangga dan Sorga Loka dalam cerita Purana di India.

Pendirian pelinggih untuk I Dewa Gede mi tentunya dibuat setelah I Dewa Gede Gumang sudah berbadan niskala dalam statusnya yang sudah menjadi Dewa Pitara. Umumnya, roh suci atau Dewa Pitara seorang tokoh dibuatkan pelinggih bukan oleh din tokoh tersebut, namun dibuat oleh keturunannya atau masyarakat generasi setelah tokoh tersebut sudah berbadan niskala sebagai Dewa Pitara atau Siddha Dewata. 

Pura Gumang terletak di puncak bukit, di mana dapat dicapai  dengan 50 menit pendakian jalan kaki dari jalan raya utama. Pura ini dijaga oleh sekelompok monyet yang tidak hanya berkeliaran di pura melainkan juga hutan di lereng bukit dan sering kali mereka dapat ditemukan sedang mencari makanan di tempat suci di kaki bukit.
Yang menarik adalah setiap Odalan di Pura Gumang anda akan menemukan masyarakat dari lima desa bahkan sekarang hampir dari seluruh penjuru pulau Bali berduyun-duyun membawa Banten, Canang dan  Babi Guling. Disini memang terkenal dengan persembahan Babi Guling-nya, bisa anda bayangkan ratusan bahkan mungkin ribuan Pemedek.

Selasa, 27 Desember 2011

Pura Lempuyang

 Pura Penataran Agung Lempuyang yang terletak di Desa Adat Purwa Ayung, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem.Pura Penataran Agung Lempuyang berada di kaki Bukit Bangle, untuk sampai ke pura ini telebih dahulu harus menaiki tangga. Dari pura ini kita bisa melihat pemandangan yang begitu indahnya dari kejauhan. Pura penataran Agung lempuyang merupakan Pura Sad Kayangan. Pura ini terbagi atas dua tingkat, di tingkat pertama terdapat bale  wantilan, sedangkan pada tingkat kedua terdapat atau bagian utama pura terdapat pelinggih Manjangan Saluang, pelinggih Limas Sari, pelinggih Catu, di bagian tengah terdapat Padmasana, Padma Ngelayang, pelinngih Gedong dan Padma Kembar. Bagian timur terdapat pelinggih Gedong Sari, pelinggih Betel, pelinggih Ratu Ngurah, dua pelinggih Gegitan, pelinggih Gedong Miyasa dan Bale Puwedangan.Upacara yang sering diadakan di pura ini  adalah upacara Puja Wali Manis Galungan. Banyak wisatawan yang datang kesini untuk melihat pura ini sambil menikmati pemadangan alam disekitarnya.Sampai saat ini awal mula pembangunan pura ini belum diketahui dengan pasti, namun pemugaran pura ini dilakukan pada tahun 2001 guna untuk tetap menjaga dan melestarikan bangunan pura.Masyarakat sekitar pura pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani, ini bisa terlihat saat berada dilokasi.Fasilitas yang terdapat di sekitar pura ini antara lain: warung makanan dan minuman, toilet dan area parkir yang cukup memadai.Jarak tempuh yang diperlukan untuk tiba di pura ini memakan waktu kira-kira 95 menit  perjalanan dengan jarak tempuh lebih kurang 75 km dari Kota Denpasar.Bila berlibur ke Bali, pura Penataran Agung lempuyang ini bisa dijadikan salah satu alternatif pilih dari tujuan wisata anda.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem,Bali-Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Di Pura Basukian, di areal inilah pertama kalinya tempat diterimanya wahyu Tuhan oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu Dharma sekarang di Bali, sebagai pusatnya. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat dan semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 arca atau candi utama simbol stana dari sifat Tuhan Tri Murti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur/Reinkarnasi. Pura Besakih masuk dalam daftar pengusulan.
Letak Pura Besakih sengaja dipilih di desa yang dianggap suci karena letaknya yang tinggi, yang disebut Hulundang Basukih yang kemudian menjadi Desa Besakih. Nama Besakih diambildari Bahasa Sansekerta, wasuki atau dalam bahasa Jawa Kuno basuki yang berarti selamat. Selain itu, nama Pura Besakih didasari pula oleh mithologi Naga Basuki sebagai penyeimbang Gunung Mandara.
Banyaknya peninggalan zaman megalitik, seperti menhir, tahta batu, struktur teras pyramid yang ditemukan di kompleks Pura Besakih menunjukkan bahwa sebagai tempat yang disucikan nampaknya Besakih berasal dari zaman yang sangat tua, jauh sebelum adanya pengaruh Agama Hindu.
Kompleks Pura Besakih dibangun berdasarkan keseimbangan alam dalam konsep Tri Hita Karana, dimana penataannya disesuaikan berdasarkan arah mata angin agar struktur bangunannya dapat mewakili alam sebagai simbolisme adanya keseimbangan tersebut. Masing-masing-masing-masing arah mata angin disebut mandala dengan dewa penguasa yang disebut “Dewa Catur Lokapala” dimana mandala tengah sebagai porosnya, sehingga kelima mandala dimanifestasikan menjadi “Panca Dewata”.
Penjabaran struktur bangunan Pura Besakih berdasarkan konsep arah mata angin tersebut, adalah :
1. Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat mandala di arah Tengah dan merupakan pura terbesar dari kelompok pura yang ada, yang ditujukan untuk memuja Dewa Çiwa;
2. Pura Gelap pada arah Timur untuk memuja Dewa Içwara;
3. Pura Kiduling Kereteg pada arah Selatan untuk memuja Dewa Brahma;
4. Pura Ulun Kulkul pada arah Barat untuk memuja Dewa Mahadewa;
5. Pura Batumadeg pada arah Utara untuk memuja Dewa Wisnu.